Blue Flower

Selamat datang dalam era konvergensi, dimana media lama dan baru tampil bersama, dan juga saling berbenturan, dimana media indie dan media korporasi saling berpotongan, dimana kekuatan produsen dan konsumen media berinteraksi dengan cara yang tak terduga.

 

Jenkins (2006) mengatakan bahwa konvergensi dapat diartikan sebagai aliran konten di beberapa platform media. Dalam dunia konvergensi media, setiap cerita tersampaikan, setiap merek terjual, dan setiap konsumen dirayu oleh beberapa platform media. 

 

Digital, Digitalisasi, dan Komputer

Berbicara konvergensi tidak akan lepas dari pembicaraan tentang komputasi dan digitalisasi. Karena beberapa sarjana komunikasi sepakat bahwa kedua hal tersebut adalah penanda hadirnya masa konvergensi.

 

Menurut Oxford Dictionary, Digital adalah; “(sinyal atau data) yang dinyatakan dalam rangkaian angka 0 dan 1, biasanya mewakili nilai-nilai dari kuantitas fisik seperti tegangan atau polarisasi magnetik. Seringkali disandingkan secara kontras dengan analog. Berkaitan dengan, penggunaan, atau penyimpanan data atau informasi dalam bentuk sinyal digital (TV digital atau digital recording). Melibatkan atau berkaitan dengan penggunaan teknologi komputer (revolusi digital)". 

 

 

Masih menurut Oxford Dictionary, Digitalisasi adalah; “konversi teks, gambar, atau suara ke dalam bentuk digital yang dapat diolah oleh komputer”.

 

Media digital selalu disandingkan secara kontras dengan media analog. Perbedaan antara media digital dan analog adalah adanya digitalisasi, atau proses yang mengubah analog menjadi bits serta sebaliknya. Pesan digital dapat dikompresi hingga dapat dibawa oleh beberapa saluran, berbeda dengan media lama dimana satu pesan pada media lama hanya mampu dibawa oleh hanya satu saluran saja.

 

Pengguna dapat berbagi transmisi saluran yang sama secara bersamaan dengan bergiliran, ini disebut sebagai packet switching. Kita dapat menerima dan mengirimkan email sementara juga bisa sambil menyaksikan video di Youtube.

 

Teknologi media baru (dalam bentuk digital) memungkinkan konten yang sama mengalir melalui berbagai saluran dan dalam berbagai bentuk titik penerimaan. Sesuai seperti apa yang Nicholas Negroponte sebut sebagai transformasi "atom ke byte" atau digitalisasi.

 

Dengan kata lain, bahwa digitalisasi dan komputasi itu mendukung kepada konvergensi. 

 

Paradigma Revolusi Digital tentang Konvergensi

Industri media saat ini sedang berevolusi kepada paradigma baru. Pada 1990-an, wacana tentang revolusi digital datang dengan salah satu asumsinya yang mengatakan bahwa media baru akan menggantikan media sebelumnya, internet akan menggantikan penyiaran (broadcasting), dan konsumen akan lebih mudah mengakses media dengan konten yang lebih bermakna bagi mereka secara pribadi.

 

Nicholas Negroponte dalam “Being Digital”, memberikan batasan yang kontras antara "Media lama yang pasif" dan "media baru yang interaktif," ia memprediksi runtuhnya jaringan penyiaran (broadcasting), meramalkan munculnya era narrowcasting, dan media-media niche yang berdasarkan atas permintaan konsumen (on-demand media).

 

George Gilder, salah satu pakar digital dalam Jenkins (2006) juga mengatakan, "Industri komputer konvergen dengan industri televisi (TV), dalam analogi yang sama seperti mobil berkumpul dengan kuda, TV menyatu dengan Nickelodeon, program pengolah kata menyatu dengan mesin ketik, program CAD berkumpul dengan papan gambar, dan digital desktop publishing berkumpul dengan mesin Linotype serta Letterpress". Bagi Gilder kemunculan komputer bukan untuk mengubah budaya massa namun untuk menghancurkannya.

 

Paradigma revolusi digital tersebut tidak sepenuhnya benar dan tidak juga sepenuhnya salah, yang jelas, konvergensi muncul dengan asumsi bahwa media lama dan media baru akan berinteraksi dalam cara yang semakin kompleks. Paradigma revolusi digital mengklaim bahwa media baru akan mengubah segalanya, tetapi yang terjadi yaitu; konvergensi berarti bahwa sebuah konsep lama mengambil makna baru.

 

Kata yang dicetak tidak membunuh kata yang diucapkan. Bioskop tidak membunuh pertunjukan teater. Televisi tidak membunuh radio. Setiap media tua dipaksa untuk hidup berdampingan dengan media baru yang muncul. Itu sebabnya konvergensi tampaknya lebih tepat sebagai cara untuk memahami perubahan media dalam beberapa dekade terakhir ini. Media lama tidak sedang diganti. Sebaliknya, fungsi dan status mereka bergeser dengan pengenalan teknologi baru. 

 

Konvergensi Tidak Hanya Tentang Teknologi

Memang ponsel pintar kita tidak hanya berguna sebagai perangkat telekomunikasi; mereka juga memungkinkan kita untuk bermain game, mengunduh informasi dari internet, dan mengambil atau mengirim pesan teks/foto. 

 

Tetapi konvergensi tidak hanya diartikan secara teknis seperti itu saja, terbatas hanya untuk peralatan media yang semakin canggih saat ini, konvergensi sebenarnya juga terjadi dalam otak khalayak. Sebagai contoh; dalam memori individu, setiap orang membangun mitologi pribadi dari potongan-potongan informasi yang diambil dari berbagai aliran media, dan kesemuanya itu disatukan dan diubah menjadi sumber untuk memahami kehidupan sehari-hari.

 

Peran memori manusia diekstensi dengan adanya perkembangan teknologi komunikasi. Begitupun dalam konsep aksi komunikasi lain seperti berbicara, mendengar, menulis, ataupun membaca, kesemuanya tidak ada yang berubah sama sekali, yang berubah hanya bentuk medianya.

 

Penelitian yang dilakukan oleh Cheskin pada tahun 2002 dalam Jenkins (2006) menjelaskan, "Ide lama konvergensi adalah bahwa semua perangkat akan berkumpul menjadi satu perangkat sentral yang melakukan segala sesuatu untuk Anda (seperti remote universal). Tetapi apa yang kita sekarang lihat adalah hardware tetap divergen sementara konten yang konvergen”.

 

Konvergensi mengacu pada proses, bukan titik akhir. Tidak akan ada kotak hitam tunggal yang mengontrol aliran media di rumah kita. Berkat proliferasi saluran dan portabilitas komputasi dan telekomunikasi teknologi baru, kita memasuki era dimana media ada di mana-mana. Konvergensi bukanlah sesuatu yang akan terjadi suatu hari ketika kita memiliki bandwidth yang cukup atau mengetahui konfigurasi yang benar dari peralatan.

 

Konvergensi media lebih dari sekedar pergeseran teknologi. Konvergensi mengubah hubungan antara teknologi yang sudah ada, industri, pasar, genre, dan penonton. Konvergensi mengubah logika antara produsen, distribusi, dan konsumen. 

 

Konvergensi dan Perubahan Industri Media

Majalah Wired menyatakan Marshall McLuhan sebagai santo pelindung revolusi digital, dan beberapa pakar lain beranggapan bahwa Ithiel de Sola Pool, seorang ilmuwan politik dari MIT, adalah nabi konvergensi media. Bukunya yang berjudul “Technologies of Freedom” (1983) mungkin adalah buku pertama untuk meletakkan konsep konvergensi sebagai kekuatan perubahan dalam industri media.

 

Menurut Pool, "Perusahaan yang menerbitkan surat kabar, majalah, dan buku memisahkan tiap media-media tersebut." Setiap media memiliki fungsi dan pasar tersendiri, dan masing-masing diatur dalam pengelolaaan yang berbeda, tergantung karakternya apakah itu terpusat atau tidak terpusat, ditandai dengan kelangkaan (scarcity) atau keberlimpahan, didominasi oleh berita atau hiburan, dan dimiliki oleh kepentingan pemerintah atau swasta.

 

Pool merasa bahwa perbedaan ini sebagian besar adalah hasil dari pilihan politik, dan dipertahankan oleh kebiasaan, bukan atas dasar karakteristik penting dari berbagai teknologi. Tapi Pool juga melihat beberapa teknologi komunikasi menunjang bertambahnya keragaman dan mendukung akan tingkat partisipasi yang lebih besar daripada yang lain. "Kebebasan dipupuk ketika sarana komunikasi tersebar, desentralisasi, dan mudah tersedia, seperti mesin cetak atau mikrokomputer. Kontrol pusat lebih kepada ketika sarana komunikasi terkonsentrasi, dimonopoli, dan langka, seperti jaringan besar. "

 

Pool berkata bahwa ada sebuah proses yang disebut sebagai "mode konvergensi" yang mengaburkan garis antara media, bahkan antara komunikasi point-to-point seperti layanan pos dan telepon fixed line, dan juga komunikasi massa seperti radio dan televisi.

 

Layanan-layanan komunikasi yang pada masa lalu dilakukan oleh hanya salah satu media, tetapi saat ini seluruh layanan dapat disajikan hanya dengan satu media saja. Jadi hubungan one-to-one (keterpisahan) yang digunakan diantara media dalam paradigma media lama sudah terkikis. 

 

Beberapa pakar mengatakan bahwa hal itu adalah divergen bukan konvergen, namun Pool memahaminya bahwa mereka adalah dua sisi dari fenomena yang sama.    

 

Pool meramalkan masa transisi yang panjang, di mana berbagai sistem media berkompetisi dan berkolaborasi mencari stabilitas. "Konvergensi tidak berarti stabilitas akhir atau kesatuan. Ia beroperasi sebagai gaya konstan untuk unifikasi tetapi selalu dalam ketegangan yang dinamis dengan perubahan… Tidak ada yang namanya hukum tetap dalam pertumbuhan konvergensi, proses perubahan lebih rumit dari itu".

 

Beberapa pakar media mengatakan bahwa media lama tidak pernah benar-benar mati, media hanya berevolusi, seperti yang bisa kita lihat dalam perubahan media audio dari vinyl, kaset, CD, file digital, dan semacamnya. Media bertahan sebagai lapisan dalam sebuah strata informasi dan hiburan yang semakin rumit. 

 

Lisa Gitelman dalam Jenkins (2006) menawarkan model media yang bekerja pada dua tingkatan: pertama, media adalah teknologi yang memungkinkan komunikasi; kedua, media adalah seperangkat yang terkait "protokol" atau praktik sosial dan budaya yang telah berkembang di sekitar teknologi itu. 

 

Konten sebuah media bisa berubah (seperti yang terjadi ketika televisi menggantikan radio sebagai media bercerita/storytelling, dan membuat radio hanya menjadi showcase utama untuk musik saat ini), penonton dapat berubah (seperti yang terjadi ketika komik berpindah dari media mainstream di tahun 1950-an ke media niche pada saat ini), dan status sosial dapat naik atau turun (seperti yang terjadi ketika pertunjukan teater berubah dari sebuah budaya populer menjadi budaya yang hanya untuk kalangan elit), tetapi sekali media menetapkan dirinya dalam memuaskan beberapa permintaan utama manusia, hal ini akan terus berfungsi dalam sistem pilihan komunikasi yang lebih besar.  

 

Pool juga memprediksi, kita berada di jaman transisi media, yang ditandai dengan keputusan taktis dan konsekuensi yang tidak diinginkan, kepentingan yang bersaing, dan yang paling utama adalah arah yang tidak jelas dan hasil yang juga tidak terduga. 

 

Hal tersebut bisa kita lihat di Indonesia saat ini. Di Indonesia, pola-pola baru kepemilikan lintas-media mulai tumbuh pada pertengahan 2000-an. Pola-pola tersebut mendukung para perusahaan untuk mendistribusikan konten mereka di berbagai saluran daripada dalam satu platform media tunggal. Kita bisa lihat kepada konglomerat media seperti Trans Group atau MNC Group dimana kelompok-kelompok tersebut memiliki banyak platform media dan saluran yang berbeda-beda (TV, penyedia konten TV kabel, media online, dan lainnya), dan kelompok usaha tersebut berusaha mengirimkan pesan yang sama dalam saluran atau media-media yang mereka miliki. 

 

Konvergensi berlangsung dalam peralatan yang sama, dalam franchise yang sama, dalam perusahaan yang sama, di dalam otak konsumen. 

 

Konvergensi dan Pergeseran Budaya Konsumsi Media

Kita saat ini sedang berada dalam budaya konvergensi. Tetapi yang perlu diingat, kita masih perlu menemukan cara untuk menegosiasikan perubahan yang terjadi. Jangan berharap ketidakpastian seputar konvergensi akan mudah dipecahkan dalam waktu dekat. Kita sedang memasuki era transisi yang berkepanjangan dan transformasi dalam cara media beroperasi.

 

Tetapi pastinya, dengan hadirnya media digital cara manusia berpikir tentang dirinya dan pemikirannya terhadap dunia juga berubah. Ini berarti ada budaya yang juga berubah. 

 

Charlie Gere dalam “Digital Cultures Understanding New Media” (2009) mengatakan, “Teknologi digital yang memungkinkan adanya konvergensi dan integrasi menawarkan perkembangan teknis dalam media dan komunikasi. Komputer adalah sarana yang penting dimana sejumlah besar data digital dikelola dan dimanipulasi. Di bawah naungan teknologi digital, terjadi percepatan pada perkembangan ilmu pengetahuan, media, dan permodalan/bisnis, dan menghasilkan perubahan dramatis dalam waktu yang sangat singkat”. 

 

Konvergensi bisa berarti adanya sirkulasi konten dalam sistem media yang berbeda, yang saling bersaing, dan lintas batas, dan hal ini juga bergantung pada partisipasi aktif khalayak. Ada kerjasama antara industri media dan migrasi perilaku khalayak media yang mencari berbagai platform untuk mencari jenis pengalaman yang mereka inginkan.

 

Jadi konvergensi tidak hanya dipahami sebagai proses teknologi semata yang menyatukan beberapa fungsi media dalam perangkat yang sama. Konvergensi juga merupakan pergeseran budaya, dimana khalayak didorong untuk mencari pengalaman baru dan membuat koneksi antara konten media yang tersebar, dan khalayak juga berperan aktif mengembangkan konten, ini menandakan terjadi pergeseran budaya konsumsi media dari sebelumnya pasif menjadi budaya partisipatif.

 

Istilah budaya partisipatif kontras dengan pengertian konsumen media yang pasif. Dahulu pembicaraan antara produsen dan konsumen media ditempatkan dalam peran yang terpisah, sekarang tidak lagi, produsen dan konsumen adalah peserta yang saling berinteraksi satu sama lain dalam seperangkat aturan baru. Jadi konvergensi juga berdampak kepada bagaimana cara memproduksi, mendistribusikan, dan mengkonsumsi media.

 

Konvergensi mengharuskan perusahaan media untuk memikirkan kembali asumsi lama tentang apa artinya mengkonsumsi media. Jika konsumen lama diasumsikan pasif, konsumen baru itu aktif. Jika konsumen lama mudah diprediksi dan diasumsikan loyal, maka konsumen baru bermigrasi. Jika konsumen lama adalah individu yang terisolasi, konsumen baru itu terhubung secara lebih sosial. Jika aktivitas konsumen media lama itu diam dan tak terlihat, maka konsumen baru sekarang berisik. 

 

 

Maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah perubahan yang dibawa oleh angin konvergensi ini mampu mengembangkan budaya partisipasi dalam kebangkitan konsentrasi media (khususnya di Indonesia)? Untuk menjawab hal ini butuh penelitian lanjutan.

 

Sisi Lain Industri Konvergensi Media

Lingkungan media sekarang sedang dibentuk oleh dua kecenderungan yang tampaknya bertentangan: di satu sisi, teknologi media baru telah menurunkan biaya produksi dan distribusi, memperluas jangkauan distribusi, dan memungkinkan konsumen untuk mendapatkan informasi yang diinginkan, mengarsipkan, dan mensirkulasi ulang konten media dengan cara baru yang lebih kuat. Pada saat yang sama, telah terjadi konsentrasi kepemilikan media komersil arus utama kepada segelintir kecil konglomerat media yang mendominasi semua sektor industri hiburan. 

 

Beberapa orang takut bahwa media akan di luar kendali, sebagian lain takut bahwa media akan terlalu dikendalikan. Beberapa orang melihat dunia tanpa penjaga gerbang, beberapa yang lain melihat bahwa gerbang penjaga dunia memiliki kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

 

Padahal konvergensi merupakan sebuah proses pengarahan top-down oleh perusahaan dan juga proses dorongan bottom-up oleh konsumen.

 

Keduanya berdampingan, perusahaan media belajar bagaimana untuk mempercepat aliran konten media di seluruh kanal distribusi untuk memperluas peluang pendapatan, memperluas pasar, dan menambah dukungan komitmen dari pengguna. Konsumen juga belajar bagaimana menggunakan teknologi media yang berbeda untuk membawa aliran media yang sepenuhnya di bawah kendali mereka dan berinteraksi dengan konsumen lainnya. 

 

 

Sumber Bacaan:

·         (Ed) Creeber, Glen. and Martin, Royston. “Digital Cultures: Understanding New Media”. McGraw-Hill. New York. 2009

·         Grant, August E. and Meadows, Jennifer H. “Communication Technology Update and Fundamentals”. 11th Edition. Elsevier Focal Press, 2008

·         Jenkins, Henry. “Convergence Culture: Where Old and New Media Collide”. New York University Press. 2006

·         Negroponte, Nicholas. “Being Digital”. Hodder and Stoughton. 1996

·         Pool, Ithiel de Sola. “Technologies of Freedom”. Harvard College. 1983

·         Straubhaar, J., LaRose, R., Davenport. Media Now: Understanding Media, Culture and Technology. 7th Edition. Wadsworth. 2012

·         http://www.oxforddictionaries.com/